Baca Berita

Literasi, Membangun Kompetensi Guru

Oleh : | 08 Oktober 2017 | Dibaca : 16 Pengunjung

Sumber Foto : Humasgianyar

Kabupaten Gianyar gelar dialog pendidikan dengan tema Literasi Guru Membangun Kompetensi Guru Dalam Gerakan Literasi Sekolah, dengan narasumber Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat (BKLM) Ari Santoso di Balai Budaya Gianyar (7/10).

Budaya literasi dimaksudkan untuk melakukan kebiasaan berfikir yang diikuti oleh proses membaca, menulis yang pada akhirnya akan menciptakan karya. Membudayakan atau membiasakan untuk membaca, menulis, itu memerlukan proses yang tidak mudah dan singkat. Dan pihak yang berperan besar adalah guru, sebagai pihak yang bersentuhan langsung dengan dunia pendidikan.

Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat (BKLM) Ari Santoso mengatakan Literasi lebih dari sekedar membaca dan menulis, namun mencakup keterampilan berpikir menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, digital, dan auditori. Di abad 21 ini, kemampuan itu disebut sebagai literasi informasi atau digital. Ada lima bagian atau tahapan dari literasi tersebut, yaitu literasi baca tulis, literasi logika, literasi sains, literasi financial, dimana literasi financial di Bali didorong oleh adat dan budaya yang ada.

Ditambahkan, secara tidak langsung adat dan budaya Bali akan menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke Bali maka dari itu disebutkan pergerakan budaya akan menggerakkan perekonomian. Serta yang terakhir adalah literasi informasi atau digital dimana setiap orang dapat dengan mudahnya mendapatkan informasi dari internet dan menganggap bahwa komunikasi tidak harus bertemu dan berbicara langsung. Ada banyak cara untuk membentuk budaya literasi yaitu dengan mendekatkan akses fasilitas baca, kemudahan akses mendapatkan bahan bacaan, berbiaya murah atau bila perlu gratis, menyenangkan dengan segala keramahan, dan keberlanjutan atau istiqomah. Cara-cara ini diharapkan akan mempercepat proses terciptanya masyarakat yang melek literasi. Ketika saat ini dimunculkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, maka gurulah yang menjadi ujung tombak dalam menyukseskan program tersebut.

Anggota DPR RI Komisi X yang membidangi pendidikan I Wayan Koster mengatakan bahwa ada perbedaan paradigm masyarakat dimana dahulu profesi sebagai guru merupakan profesi  yang dihindari karena pada jaman dahulu profesi sebagai guru dianggap tidak menghasilkan apa-apa. Kalaupun ada yang ingin menjadi guru berarti orang tersebut mempunyai niatan yang sangat baik atau mempunyai idiologi tinggi. Berbeda dengan sekarang profesi sebagai guru merupakan profesi pilihan, apalagi profesi sebagai guru dianggap sebagai profesi yang professional yang harus memiliki kompetensi. Menjadi  seorang guru harus rajin membaca, karena seorang guru tidak boleh ketinggalan informasi “Makanya kami memberikan tunjangan profesi yang tujuannya untuk meningkatkan kompetensi profesi bapak ibu sebagai guru’’. Karena ditangan guru-guru nasib generasi muda bangsa ini kita pertaruhkan agar menjadi generasi yang cerdas memiliki kompetensi profesional, dan memiliki jati diri yang baik melalui proses pembelajaran dan pendidikan yang baik. Tugas seorang guru bukan hanya mengajar tapi mendidik jauh lebih penting. Guru kedepan adalah guru yang cerdas secara pilihan, memiliki harapan membangun dunia pendidikan yang baik.

Kepala sekolah SD Sutha Dharma Ubud Ida Ayu Sriani mengucapkan terima kasih kepada Wayan Koster serta menyampaikan agar kedepannya ada kesetaraan pendapatan antara guru negeri dan swasta karena tugas dan beban seorang guru sama yaitu mencerdaskan anak bangsa. Ia juga menambahkan bahwa agar ada perhatian lebih dari pemerintah kepada sekolah swasta agar dapat bersaing dengan sekolah negeri.

Diakhir dialognya Wayan Koster mengingatkan kepada seluruh guru agar tidak terlibat dan ikut-ikutan kedalam dunia politik dan bekerja secara professional namun harus tetap menggunakan hak pilihnya. Akhirnya, untuk mewujudkan bangsa yang lebih berkualitas, maka satu-satunya cara adalah dengan mengoptimalkan karakter gurunya terlebih dahulu, diantaranya  dengan menjadi guru yang literat. Guru yang mampu dan memiliki budaya membaca yang tinggi dan sekaligus mampu menuliskannya. Dengan teladan guru literat, maka anak-anak kedepan akan menjadi masyarakat literat, bukan menjadi masyarakat yang hobinya menonton saja. “Jadi, agar tidak semakin tertinggal sudah saatnya Indonesia berbenah menumbuhkan minat baca sejak dini terutama pada peserta didik di setiap tingkat satuan pendidikan dari sekolah dasar sampai sekolah menengah. Tanpa itu, kita akan hanya akan menjadi penonton berbagai kemajuan teknologi dan informasi modern.”, tandas Wayan Koster. (humasgianyar)


Oleh : | 08 Oktober 2017 | Dibaca : 16 Pengunjung


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya :