Baca Berita

Desa Percontohan Sadar Lingkungan, Gugah Masyarakat Kelola Sampah Mandiri

Oleh : | 15 Maret 2017 | Dibaca : 188 Pengunjung

Sumber Foto : HumasGianyar

Sampah memang menjadi masalah yang klasik, dari sejak jaman dulu hingga sekarang sekan tidak pernah ada habisnya. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, yang paling penting adalah kesadaran masyarakat untuk turut berpartisipasi. Hal ini ditekankan oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Gianyar, I Wayan Kujus Pawitra pada acara pembinaan Lomba Desa Percontohan Sadar Lingkungan tingkat Provinsi Bali di Rumah Kompos Desa Padangtegal Kecamatan Ubud Gianyar, (10/3).

Rumah Kompos Padangtegal Ubud, menurut Kujus Pawitra merupakan inovasi yang patut ditiru oleh masyarakat lain dalam pengelolaan sampah mandiri. Saat ini volume sampah di Kabupaten Gianyar mencapai 15 ribu m2 perhari, dan hanya sebagian yang mampu di tangani di TPA Temesi. Sisa dari yang tidak bisa ditangani inilah yang harus dipikirkan oleh semua pihak.

Tahun ini Desa Padangtegal Ubud mewakili Kabupaten Gianyar dalam lomba Desa Percontohan sadar Wisata. Masyarakat Padangtegal secara sadar dan swakelola memilah sampah kemudian dikumpulkan di rumah kompos untuk di bawa ke TPA Temesi. Tidak menunggu petugas dari pemerintah, tapi secara sadar dan bersama-sama membantu menjaga kebersihan lingkungan.

“ Kesadaran warga Padangtegal inilah semoga bisa menggugah inspirasi daerah lainnya dalam berinovasi mengolah sampah untuk menjaga kebersihan lingkungan,” kata Kujus Pawitra.

Manajer Rumah Kompos Supardi, menambahkan Rumah Kompos berdiri sekitar tahun 2012 lalu dengan sprit ingin menjadikan Ubud dan Gianyar pada umumnya menjadi wilayah yang bersih dari tumpukan sampah. Apalagi saat itu kesadaran masyarakat akan pengolahan sampah sangat kecil. Prioritas awal berdirinya  adalah sampah rumah tangga di wilayah Desa Padangtegal. Dengan dukungan aparat desa dan tokoh masyarakat, gebrakan yang cukup berani dilakukan rumah kompos. Sampah tidak akan diambil jika tidak dipilah terlebih dahulu. Tidak mudah memang kata Supardi, warga banyak yang marah karena sampahnya tidak diangkut, namun dengan perjuangan yang gigih, akhirnya kini masyarakat sudah terbiasa memilah sampah sebelum diangkut oleh Rumah Kompos.

Selain itu, Rumah Kompos dibantu oleh beberapa relawan dari wisatan asing yang memang peduli terhadap lingkungan, mengajak anak-anak sekolah untuk menjadi “Pahlawan sampah”. Seminggu sekali mereka menyasar sungai dan beberapa fasilitas umum lainnya untuk membersihkan sampah. Sungai dulu itu ibarat swalayannya sampah. Berbagai jenis sampah ada dibantaran sungai, membuat kotor lingkungan, namun kini pemandangan itu sudah tidak ada lagi.

Sementara itu Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Bali, Drs. Gede Suarjana,M.Si mengatakan kriteria penilaian dalam lomba Desa Percontohan Sadar Lingkungan nanti meliputi, aspek 3R, aspek pengomposan, aspek kebersihan, aspek manajemen dan aspek peran serta masyarakat.

Suarjana juga menegaskan, tujuan dari lomba ini adalah meningkatkan peran serta mesayarakat dalam mengelola sampah, sehingga lingkungan tetap terjaga. (HumasGianyar/eni)


Oleh : | 15 Maret 2017 | Dibaca : 188 Pengunjung


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya :