Baca Artikel

Siaran Pers - Kabupaten Gianyar terpilih sebagai Anggota Organisasi Kota Pusaka Dunia

Oleh : | 13 April 2017 | Dibaca : 322 Pengunjung

 

Siaran Pers

13 April 2017

 

Kabupaten Gianyar terpilih sebagai Anggota Organisasi

Kota Pusaka Dunia (Organization of World Heritage Cities)

Bersiap sambut International Conference of National Trust (ICNT)

di bulan September 2017

 

JAKARTA. Gianyar memiliki sejarah panjang sebagai akar budaya Bali. Sejak 246 tahun yang lalu - tepatnya 19 April 1771, nama Gianyar dipilih menjadi nama sebuah keraton Puri Anyar oleh Ida Dewa Manggis Sakti, maka sejak itu sebuah kerajaan yang berdaulat dan otonom telah lahir serta ikut pentas dalam percaturan kerajaan-kerajaan di Bali.

 

Tidak mengeherankan bila di hari jadi Kota Gianyar ke-244 di tahun 2015 yang lalu, tema sentral “Gianyar Kota Pusaka” seakan menjadi pembenaran rekam jejak tersebut. Disamping itu, pengangkatan Bupati Gianyar, Anak Agung Gde Agung Bharata sebagai Ketua Presidium Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) periode 2016-2017 sekaligus penetapan Kabupaten Gianyar sebagai tuan rumah puncak peringatan Hari Pusaka Dunia (World Heritage Day) 18 April 2017 yang akan disaksikan oleh bupati/wali kota dari 58 kabupaten/kota anggota JKPI dalam rangkaian Rakernas VI pada waktu yang sama akan makin meneguhkan semangat untuk melestarikan beragam pusaka di berbagai daerah dengan keunikan masing-masing.

 

Puncaknya, Kabupaten Gianyar terpilih menjadi Anggota Organisasi Kota Pusaka Dunia (Organization of World Heritage Cities) dengan difasilitasi oleh Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI). Kabar gembira ini di sampaikan oleh Organization of World Heritage Cities (OWHC) pada tanggal 12 April 2017 setelah di akhir Pebruari yang lalu Gianyar mengutus Ketua Dewan Pimpinan Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) untuk melakukan proses pengajuan Gianyar sebagai anggota OWHC ke Quebec, Kanada. Hal ini merupakan prestasi tersendiri mengingat proses seleksi dilakukan sangat ketat dengan meyertakan parameter kota pusaka yang mendalam.

 

Untuk mengapresiasi hal tersebut, sekaligus memaparkan Kabupaten Gianyar sebagai Anggota Organisasi Kota Pusaka Dunia (Organization of World Heritage Cities) diselenggarakan Temu Media yang dihadiri oleh Dr. Harry Widianto - Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman – Ditjen Kebudayaan, Anak Agung Gde Agung Bharata - Bupati Gianyar, dan Catrini Pratihari Kubontubuh - Ketua Dewan Pimpinan Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) di Jakarta.

 

 

 

Dr. Harry Widianto - Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman – Ditjen Kebudayaan mengatakan, “Kemajuan bangsa Indonesia sangat ditentukan oleh pembangunan kebudayaan, dalam hal ini kota-kota pusaka seperti Gianyar memiliki peran penting dalam melaksanakan pembangunan berlandaskan kebudayaan yang sangat kaya dan belum tentu dimiliki oleh bangsa lainnya”.

 

Dalam paparannya Anak Agung Gde Agung Bharata - Bupati Gianyar menguraikan,”Gianyar sangat terhormat mendapatkan kepercayaan dunia untuk turut berperan bersama kota-kota pusaka dari berbagai negara dalam menjaga kelestarian alam dan budaya, serta memperkenalkan kearifan dan keunikannya untuk berkontribusi dalam menghadapi tantangan global”.   

 

Di sisi lain, Catrini Pratihari Kubontubuh - Ketua Dewan Pimpinan Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) menjelaskan,”Indonesia memerlukan tauladan dari Gianyar sebagai kota pusaka yang bisa memberikan inspirasi bagi kota-kota lainnya dalam mengedepankan kebijakan pemerintah daerah yang berpihak pada keberlanjutan sejarah panjang kotanya, di antara keprihatinan terhadap berbagai penghancuran dan perusakan cagar budaya saat ini”.

 

Sebagaimana diketahui, Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) dirintis oleh BPPI bersama tokoh-tokoh kepala daerah yang peduli pelestarian pusaka pada tahun 2008  yaitu diantaranya adalah Bapak Jokowi selaku Walikota Surakarta dan Bapak (Alm) H. Amran Nur selaku Walikota Sawahlunto.

 

Selain UNESCO yang berkiprah dalam memberikan pengakuan World Heritage Cities, maka di tataran internasional ada organisasi yang bernama Organization of World Heritage Cities (OWHC) yang dibentuk sebagai forum para walikota dan kepala daerah kota-kota pusaka dengan persyaratan memiliki setidaknya satu situs pusaka dunia yang telah diakui oleh UNESCO. Saat ini sekitar 280 kota-kota pusaka di dunia tercatat sebagai anggota OWHC. Kota di Indonesia yang telah berhasil tercatat sebagai anggota adalah Surakarta (sejak 2008) dan Denpasar (sejak 2013).

 

BPPI sebagai bagian dari pendiri JKPI selama ini berperan untuk memberikan pendampingan dalam peningkatan kapasitas (capacity building) jajaran pemerintah kota dan kabupaten anggota JKPI, dengan salah satu tujuan adalah  pengakuan dari UNESCO serta menjadi anggota organisasi kota pusaka dunia yaitu OWHC. Selama ini BPPI bergiat untuk mendampingi kegiatan penataan dan pelestarian Kota Pusaka bekerjasama dengan institusi terkait seperti Ditjen Cipta Karya – Kementerian Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat, Deputi Warisan Budaya – Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Ditjen Kebudayaan – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Ditjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta organisasi masyarakat di berbagai kota pusaka.

 

Gianyar siap menjadi Tuan Rumah International Conference of National Trust (ICNT) di bulan September 2017

Sebagai bagian dari komunitas peduli pelestarian pusaka, BPPI menjadi anggota International of National Trusts Organization (INTO) yang saat ini beranggotakan 65 organisasi pelestarian dari berbagai belahan dunia baik benua Asia, Australia, Amerika, Eropa dan Afrika. Pertemuan berkala dua tahunan organisasi pelestarian sedunia pada tahun 2017 ini sudah dipastikan oleh INTO akan diselenggarakan di Indonesia, dengan tuan rumah BPPI bersama-sama Pemerintah Kabupaten Gianyar pada 11-15 September 2017. Topik “Pusaka Budaya, Kunci Kelestarian Lingkungan / Our Cultural Heritage, the Key to Environmental Sustainability” merupakan upaya bersama dunia dalam menguatkan tradisi dan kearifan lokal guna menjawab tantangan permasalahan lingkungan.

 

Kepercayaan dunia untuk Gianyar sudah sepantasnya menjadi pijakan bersama guna semakin mendayagunakan aset-aset pusaka di berbagai kota pusaka di Indonesia, bersama-sama pemerintah daerah dan pelibatan partisipasi masyarakat serta swasta untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakatnya.

 

 

Temu Media yang sama diselenggarakan juga di Gianyar, Bali pada hari yang sama dipimpin oleh Wakil Bupati Gianyar.

 

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi

 

Catrini Pratihari K.

Ketua Dewan Pimpinan BPPI

C: 0813 813 03 696

E: catrini@bppi-indonesianheritagetrust.org

I Gusti Ngurah Wijana

Kepala Dinas Kebudayaan Gianyar

C: 081999302048

E : ngurahwijana7@gmail.com

 

Seputar BPPI

BPPI merupakan organisasi nirlaba. Anggota BPPI tersebar diseluruh nusantara dan dunia yang terdiri dari individu praktisi dan pemerhati pelestarian. Ruang lingkup program-program BPPI yang sangat luas menjadikan BPPI kaya dengan anggota dari berbagai disiplin ilmu seperti arsitektur, perencanaan kota/daerah, lingkungan hidup, arkeologi, sosiologi, antropologi, ekonomi, hukum, sejarah, sastra, musik, teater, dan lain sebagainya.

 

Saat ini BPPI bermitra dengan lebih dari 50 mitra lokal yang tersebar diberbagai daerah di Indonesia serta mitra international dari Australia, Belanda, Lebanon, dll. BPPI merupakan anggota dari International National Trust Organisation (INTO) yaitu wadah jaringan organisasi pelestarian sedunia yang berpusat di London.

 

Seputar Kabupaten Gianyar

Gianyar adalah salah satu kabupaten di Provinsi Bali. Dengan luas 368 km2 dan berpenduduk 500.000 jiwa, Gianyar terbagi menjadi 7 kecamatan: Sukawati, Blahbatuh, Gianyar, Tampaksiring, Ubud, Tegallalang, and Payangan. Saat ini Gianyar memiliki 244 Desa, 504 ‘Banjar’, dan 2.732 pura, dengan 580 organisasi subak yang meliputi 529 subak yeh (sawah) dan 51 subak abian (kebun/tegalan) yang didukung dengan keberadaan 12 sungai yang melintasinya.

Gianyar bersama 4 kabupaten di Bali lainnya yaitu Tabanan, Badung, Bangli dan Buleleng mendapatkan pengakuan Pusaka Dunia/World Heritage dari UNESCO untuk Subak sebagai manifestasi filosofi Tri Hita Karana pada 29 Juni 2012. Pengakuan ini ditindaklanjuti oleh Gianyar dengan berbagai kegiatan praktis seperti penyelenggaraan sekolah lapangan untuk Subak yang telah diawali sejak tahun 2015 bekerjasama dengan BPPI dan Kyoto University. Rekomendasi Gianyar untuk Keberlanjutan Subak dideklarasikan pada 10 oktober 2016 dalam rangkaian World Culture Forum (WCF) 2016 di Bali.


Oleh : | 13 April 2017 | Dibaca : 322 Pengunjung


Artikel Lainnya :

Lihat Arsip Artikel Lainnya :